Pages

Jumat, 20 September 2013

Bila Kehamilan Terjadi di atas Usia 35 Tahun


 untuk menimang buah hati kadangkala tidak mengenal usia. Apa jadinya bila kehamilan yang ditunggu-tunggu setelah sekian lama, hadir di usia Ibu yang telah mencapai 35 tahun? Walau banyak orang bilang, usia hanya sekadar angka, namun Ibu perlu mengenali sederet kemungkinan atau risiko yang mungkin akan muncul. Meskipun demikian, tak sedikit ibu yang juga berhasil melahirkan bayi yang sehat dan normal dengan kehamilan di usia ini. Walau banyak yang berhasil, Ibu harus memahami lebih dalam mengenai hal tersebut.
Apa yang perlu Ibu ketahui dengan usia di atas 35 tahun?
1.  Lebih lama untuk hamil. Wanita dilahirkan dengan keterbatasan jumlah sel telur. Saat di awal usia 30-an, kualitas sel telur sudah mulai menurun dan ovulasi juga menjadi lebih jarang walau masih memiliki siklus menstruasi yang teratur. Sel telur di usia lebih tua agak lebih sulit dibuahi dibandingkan sel telur pada usia yang lebih muda. Tetapi hal ini bukan berarti Ibu tidak bisa hamil, namun hanya memakan waktu yang lebih lama.
2. Berpeluang mengalami kehamilan kembar
Peluang hamil kembar meningkat sesuai dengan pertambahan usia Ibu.
3.  Berisiko alami diabetes gestasional
Diabetes tipe ini biasanya terjadi selama kehamilan berlangsung dan lebih sering dialami ibu hamil dengan usia yang lebih tua. Lakukan kontrol gula darah, diet sehat seimbang, dan aktvitas fisik. Bila tidak diatasi, diabetes gestasional ini dapat menyebabkan bayi tumbuh terlalu besar yang nantinya akan mempersulit proses persalinan.
4.  Tekanan darah tinggi
Beberapa studi melansir bahwa tekanan darah tinggi yang muncul selama kehamilan lebih sering dijumpai pada wanita usia lebih tua. Hipertensi pada kehamilan bisa berupa hipertensi kronis (telah muncul sebelum usia kehamilan 20 minggu), hipertensi gestasional (muncul setelah usia kehamilan 20 minggu) atau pre-eklamsi (muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan disertai dengan adanya protein dalam urin). Tekanan darah pada Ibu hamil dengan hipertensi harus diawasi secara ketat, demikian pula halnya dengan pertumbuhan janinnya. Untuk menghindari komplikasi, Ibu mungkin perlu mengonsumsi obat anti hipertensi.
5.  Mungkin memerlukan persalinan sesar
Risiko terjadinya plasenta previa, yaitu jalan lahir tertutup / terhalang plasenta, sering terjadi pada usia 35 tahun. Masalah persalinan pun cenderung lebih sering terjadi pada Ibu dengan kehamilan pertamanya di usia ini.
6.  Risiko janin memiliki kelainan kromosom, seperti sindrom Down.
7.  Risiko keguguran juga lebih tinggi yang sesuai dengan pertambahan usia Ibu
Ibu yang berusia di atas 35 tahun berisiko tinggi mengalami penyulit kehamilan/persalinan serta morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian). Bila Ibu memiliki penyakit kronik atau kondisi fisik yang kurang sehat, risiko tersebut lebih besar. Pada Ibu yang memiliki berat badan seimbang, fisik bugar dan tidak memiliki masalah medis, risikonya lebih rendah. Itu sebabnya Ibu yang sudah berusia di atas 35 tahun yang ingin mengoptimalkan kehamilannya atau Ibu yang ingin hamil karena telah menunda kehamilannya, perlu melakukan konseling terlebih dahulu dengan dokter.

Fakta Menarik Seputar Proses Kelahiran!


 
Punya banyak pertanyaan mengenai proses persalinan? Temukan berbagai fakta menarik seputar proses persalinan, di sini!
Kelahiran si Kecil di dunia adalah momen yang sangat berharga, terutama bagi Ibu yang baru akan pertama kali melahirkan. Oleh karena itu, agar bisa lebih siap menghadapi proses persalinan, berikut adalah beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh para calon Ibu.
  1. Sebenarnya seperti apa sih air ketuban yang pecah? Bagaimana kalau hal ini terjadi di muka umum?
    Menurut penelitian, hanya 1 diantara 4 perempuan yang mengalami pecah air ketuban sebelum proses persalinan. Lagipula, cairan ketuban Ibu akan keluar perlahan dalam jumlah yang sedikit. Jadi, Ibu pun tidak perlu membayangkan air ketuban akan membasahi pakaian dan membuat malu di muka umum.
    Namun, ada yang perlu perhatikan, yaitu fakta bahwa udara terbuka yang tidak steril dapat meningkatkan resiko infeksi pada janin. Oleh karena itu, segera konsultasi dengan dokter kandungan mengenai tindakan lanjutan jika terjadi pecahnya air ketuban.
     
  2. Apa saja ya yang terjadi pada vagina/organ vital/ alat kelamin saat saya “mendorong” si Kecil keluar dari rahim?
    Pada dasarnya, Ibu akan “mendorong” si Kecil keluar dengan menggunakan tekanan pada perut. Cara memperoleh tekanan ini sendiri serupa dengan bagaimana manusia mengeluarkan feses/kotoran/ buang air besar.
    Mengingat saluran pencernaan wanita berjalan paralel dengan rahim, maka wajar saja jika pada saat proses persalinan ada sisa-sisa pencernaan yang ikut keluar. Jadi, Ibu pun tidak perlu merasa risih jika mengalami hal ini, karena memang umum terjadi pada setiap proses persalinan.
     
  3. Benarkah obat pengurang rasa sakit dapat menyebabkan mual yang luar biasa? Lalu, apakah normal jika saya muntah setelah mengonsumsi obat-obat ini saat persalinan?
    Memang benar Bu, ada beberapa obat pengurang rasa nyeri yang dapat menyebabkan rasa mual, Obat-obat ini berfungsi “mematikan” reseptor nyeri di otak untuk beberapa saat, sehingga dapat menimbulkan rasa pening, bahkan vertigo jika tidak terbiasa. 
    Namun, bukan berarti Ibu bebas dari muntah saat tidak mengonsumsi obat. Kontraksi yang terjadi di perut pada proses kelahiran normal sebenarnya sudah cukup untuk mendorong makanan ikut keluar. Uniknya, muntah justru dapat membuat Ibu lebih cepat melahirkan karena membantu proses pembukaan vagina.
Bagi calon Ibu baru, proses kelahiran akan menimbulkan berbagai perubahan dan kondisi pada tubuh. Namun, asalkan tetap bisa menjaga kesehatan, dan rutin berkonsultasi dengan dokter kandungan, Ibu tidak perlu khawatir. Dengan perhatian penuh dan gizi yang cukup, proses kelahiran yang dijalani pun akan berjalan dengan lancar!

Salam Hangat.