Pages

Jumat, 24 Januari 2014

Mengapa Sering Kepanasan Saat Hamil?


Ibu hamil biasanya akan merasa lebih gerah/panas, sehingga akan mengeluarkan keringat lebih banyak. Penyebabnya adalah perubahan hormonal dan peningkatan aliran darah ke kulit yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Selama yang dirasakan itu masih dalam batas normal, tentunya tidak membahayakan perkembangan janin.

Selain meningkatnya aliran darah ke kulit yang menyebabkan Ibu berkeringat, kehadiran si Kecil di dalam rahim juga akan membuat Ibu lebih kepanasan dan keringat pun menjadi lebih banyak, terutama pada usia kehamilan bulan-bulan terakhir. Saat itu, ibu hamil akan berkeringat lebih banyak dibandingkan sebelumnya, karena kelenjar keringat bekerja lebih ‘giat’ agar tubuh Ibu tetap ‘adem'. Itulah sebabnya Ibu pun mengeluarkan keringat lebih banyak.
Cara mengatasi kepanasan saat hamil sebetulnya mudah. Lakukan pernapasan teratur, jangan terlalu cepat atau lambat. Bagi ibu hamil yang punya masalah pernapasan akibat alergi atau misalnya sakit asma, tinggalah di dalam ruangan/rumah. Selain itu, perhatikan hal-hal berikut ini:
  • Hindari terpajan langsung sinar matahari siang, karena ibu hamil cenderung mudah terbakar sinar matahari (sunburn) dibandingkan saat tidak hamil.
  • Waspadai tanda-tanda awal seperti merasa lemah, lelah, pusing, atau haus. Segera berbaring dan minum banyak air atau cairan yang mengandung elektrolit. Segera ke dokter bila keadaan tidak segera membaik.
  • Bila harus ke luar rumah, gunakan tabir surya dengan SPF (sun protecting factor) tinggi dan payung.
  • Hindari berendam dalam air panas.

  • Gangguan yang sering timbul akibat kepanasan adalah sembab atau pembengkakan kaki, yang disebut ‘edema’. Pembengkakan kaki tersebut akan semakin bertambah bila pada akhir trimester dua ibu hamil berada dalam musim kemarau atau cuaca yang sangat panas. Untuk mengatasinya ikutilah beberapa tips berikut:
    1. Berbaring 30-60 menit setiap hari sepulang kerja atau saat istirahat makan siang.
    2. Letakkan kedua kaki sedikit lebih rendah daripada kepala.
    3. Gunakan sepatu yang nyaman, pilih yang longgar dan tidak menekan kaki.
    4. Jangan berdiri dalam satu posisi terlalu lama.
    5. Minimalkan garam, tetapi jangan dihilangkan. Iodium di dalam garam diperlukan untuk kesehatan janin.
    6. Jangan minum obat diuretik (yang dapat meningkatkan sekresi urin), karena dapat menyebabkan hilangnya elektrolit yang dapat membahayakan janin.

    Kalau Ibu berkeringat sangat banyak, minumlah lebih banyak cairan. Selain ‘air putih’, bisa juga mengonsumsi minuman lain, seperti susu, jus, dan sebagainya, yang akan menggantikan elektrolit yang hilang. Jangan sampai terasa sangat haus, karena itu berarti tubuh sudah mengalami dehidrasi. Minumlah segelas air setiap kali minum secara teratur sepanjang hari.
    Bila ibu hamil menyadari bahwa dalam proses kehamilan terjadi berbagai perubahan dalam tubuh, maka sebaiknya rasa panas yang menerpa tubuh juga bisa dimaklumi. Anggaplah itu sebagai ‘kesatuan paket kehamilan’ yang harus dijalani, sebelum bayi mungil yang Ibu nantikan lahir dengan selamat dengan mengikuti saran di atas. Apabila Ibu mengalami kendala, Ibu dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter.

    Apakah si Kecil Gagap?

     
     
     
     
    .
     
     
    Apakah si Kecil mengalami kesulitan berbicara dan cenderung ragu-ragu untuk berbicara atau mengulang-ulang suku kata, kata atau frase tertentu? Jika iya, maka kemungkinan si Kecil mengalami gagap. Dalam perkembangan kemampuan berbahasa, kadang ada masanya si Kecil berbicara secara gagap. Gagap terjadi karena ide di otak si Kecil muncul lebih cepat dari kemampuannya untuk mengekspresikan ide tersebut. Keadaan ini umumnya dijumpai ketika si Kecil memasuki usia 3-4 tahun dan bisa merupakan bagian normal dari perkembangan berbahasanya. Dikatakan normal jika pengulangan suku kata hanya terjadi dua kali, misalnya i-i-ibu, dan hanya berlangsung selama beberapa minggu kemudian menghilang dengan sendirinya.

    Yang perlu diwaspadai adalah jika gagap berlangsung selama lebih dari 6 bulan, pengulangan kata lebih dari dua kali, misalnya a-a-a-a-aku mau susu, dan si Kecil terlihat tegang serta berusaha keras untuk berbicara.
    Bagaimana mengantisipasi keadaan ini supaya tidak terbawa sampai dewasa?
    • Ketika si Kecil berbicara, berikan perhatian penuh dan jangan mengomentari cara bicaranya yang gagap.
    • Jangan berbicara terlalu cepat dengan si Kecil, bicaralah secara perlahan/lambat, tenang, santai dan beri beberapa kali jeda.
    • Jangan terlalu banyak bertanya supaya si Kecil lebih bebas berbicara mengekspresikan idenya sendiri, bukan hanya menjawab pertanyaan Ibu. Lebih baik mengomentari apa yang dikatakannya, sehingga si Kecil tahu bahwa Ibu mendengarkannya.
    • Gunakan ekspresi wajah dan bahasa tubuh lainnya untuk menunjukkan pada si Kecil bahwa Ibu mendengarkan apa yang disampaikan, bukan memperhatikan cara dia berbicara.
    • Luangkan lebih banyak waktu bersama si Kecil, biarkan si Kecil menentukan apa yang ingin dilakukannya.
    • Terapkan kebiasaan di rumah untuk bergantian berbicara dan mendengarkan sehingga si Kecil akan belajar bahwa lebih mudah untuk berbicara ketika ada jeda dan perhatian dari yang diajak berbicara.
    • Tunjukkan bahwa Ibu mendengarkan apa yang disampaikan dan bahwa si Kecil memiliki banyak waktu untuk bicara.
    • Tunjukkan bahwa Ibu menerima keadaan si Kecil yang gagap. Dukungan Ibu merupakan kekuatan terbesar untuk si Kecil pulih dari keadaan ini.
    • Jika si Kecil tampak frustrasi dengan kegagapannya, tenangkan, beri usapan lembut, peluk si Kecil dan katakan “Ibu tahu tidak mudah untuk bicara, jadi kamu jangan bersedih, nanti juga lama-lama kamu akan pandai berbicara”.
    Jangan merasa kesal atau terganggu dengan kegagapan si Kecil, kesabaran akan sangat membantu si Kecil untuk mengatasi hal ini. Jika gagap berlangsung lebih dari 6 bulan dan tidak hilang, sebaiknya Ibu ajak si Kecil untuk menemui ahli terapi bicara, sehingga bisa ditentukan langkah berikutnya untuk membantu menghilangkan kegagapan si Kecil.