Pages

Minggu, 15 Juni 2014

Tips Memberikan Makanan Pada Bayi Dalam Keadaan Darurat Sumber : Tips Memberikan Makanan Pada Bayi Dalam Keadaan Darurat http://bidanku.com/tips-memberikan-makanan-pada-bayi-dalam-keadaan-darurat#ixzz34lPVFVQ8

Menghadapi bencana alam yang dapat terjadi kapan saja dan dimana saja terlebih di Indonesia yang sangat rentan terhadap banjir, gempa bumi atau tsunami. Hal ini membuat banyak orang harus waspada, terlebih bagi ibu yang memiliki bayi. Pada dasarnya bayi dan balita masih sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungannya.Bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk memberikan pertolongan terutama makanan pada bayi dalam keadaan darurat?
Tidak ada satu orangpun yang menginginkan terjadi bencana namun anda harus siap dalam mengatasi kemungkinan terburuk yang terjadi apalagi bila anda sedang memiliki anak dalam usia batita. Pada usia batita perhatian terhadap kesehatan paling utama karena akan menunjang perkembangan dan pertumbuhannya. Perhatian utama dari kesehatan usia batita adalah makanan yang diberikan ketika dalam keadaan darurat.
Pertolongan yang diberikan pada saat kondisi darurat dibutuhkan kordinasi dengan semua pihak.Bantuan dari pihak sukarelawan, donatur dan juga perhatia pemerintah dalam mengetahui pemberian makanan bayi dalam keadaan darurat.

Berikut adalah beberapa tahapan yang dapat anda lakukan ketika anda sedang berada di kondisi darurat dalam upaya memberikanan makanan bayi :

A. Menyusui dalam keadaan darurat :
  1. Keterbatasan sarana yang ada di lokasi penampungan sangat penting untuk diperhatikan, misalnya ketika akan menyusui maka lebih penting dalam menyiapakan susu formula dan air bersih dalam jumlah yang memadai.
  2. Apabila memungkinkan anda tetap memberikan ASI dikarenakan kandungan ASI yang memiliki antibody yang diperlukan oleh bayi anda , terlebih rentan terhadap diare, kematian bayi dan kekurangan gizi.
  3. Untuk mencegah penyebaran penyakit seperti diare maka anda dapat membersihkan dengan menggunakan air bersih dan sabun khusus untuk mencuci peralatan bayi anda.
B. Pemberian Makanan Pendamping ASi
Bagi anda yang akan memberikan Makanan Pendamping ASI pada bayi sesuai denan rekomendasi DEPKES dari situs aimi.asi.org maka anda dapat mengikuti petunjuk sebagai berikut :
  1. Makanan Pendamping ASI hanya diberikan pada bayi yang berusia 6 bulan.
  2. Adanya pendataan yang dilakukan oleh petugas sukarelawan sehingga dapat membantu dalam penyaluran makanan pendamping ASI yang tepat sesuai dengan kebutuhan bayi.
  3. Pada umumnya pengungsi dapat memperoleh MPASI yang sudah dikemas secara khusus.
  4. Perhatikan kebersihan peralatan makanan pada bayi anda untuk mengurangi terjadinya penyebaran penyakit di lingkungan pengungsi.
  5. Apabila memungkinkan maka anda dapat menyediakan bahan lokal dalam menggunakan peralatan yang higienis dalam pembuatan MPASI
  6. Kandungan gizi yang dapat disesuaikan memenuhi kebutuhan gizi yang dianjurkan (mikronutrisi dan makronutrisi)

7 Kiat Ibu Ajarkan Rutinitas Bayi

7 Kiat Ibu Ajarkan Rutinitas Bayi Ayahbunda.co.id

Kendala bagi setiap ibu baru adalah menyesuaikan waktu dengan kebiasaan bayinya. Entah itu tidur, makan, bermain, dan sebagainya. Namun itu semua bisa diatur, kok. Bayi pun perlu diperkenalkan dengan rutinitas atau jadwal yang teratur sedini mungkin.

Berikut 7 kiat agar jadwal dan aktivitas ibu dan bayi bisa berjalan beriringan dan aktivitas pribadi ibu tidak terganggu.
  1. Ajarkan jadwal tidur. Bayi baru lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Namun pelan-pelan bayi sudah bisa diajarkan jadwal tidur agar kebutuhan gizinya lewat ASI juga terpenuhi. Jika perlu, setelah bayi tidur 3-4 jam bangunkan ia untuk disusui.
  2. Ajarkan beda siang dan malam. Tujuannya sebagai penunjang pengenalan jadwal tidur. Pada pagi hari, buka jendela agar cahaya matahari menerangi kamar, atau ajakbayi ke luar untuk melihat terangnya dunia dan suasana aktif di sekitarnya. Pada malam hari, matikan lampu, ciptakan suasana temaram yang tenang.
  3. Pelajari 'bahasa simbol' bayi. Secara alami bayi Anda akan memberi sinyal, apa yang ia butuhkan melalui 'bahasa simbol'. Misalnya lapar, mulutnya akan bergerak-gerak seperti mengisap. Suara tangisnya pun berbeda, antara lapar dan minta ganti popok.
  4. Prioritaskan jadwal bayi. Selama 2-3 minggu pertama penerapan jadwal, hindari penyimpangan agar bayi mengenal pola kegiatan yang Anda terapkan. Ini akan jadi pola dasar baginya dalam mengenali pengembangan jadwal selanjutnya setelah semakin besar.
  5. Bersiaplah dengan perubahan. Dalam 1 tahun pertama, akan banyak terjadi perubahan dan perkembangan kemampuan yang dicapai bayi. Semua ini membuatbayi lebih sering lapar sehingga mau tak mau akan mengubah jadwal makannya.
  6. Sesuaikan usia. Perkembangan yang terus terjadi pada bayi, menuntut Anda terus-menerus melakukan penyesuaian jadwal dan kegiatan. Misalnya, jam tidur siang bayijadi lebih pendek karena ia kini senang bermain.
  7. Tak harus sempurna. Harap fleksibel, bunda. Sebab, jadwal yang Anda buat tidak akan berjalan dengan sempurna, seperti yang tertulis. Jadwal makan snack hari ini bisa saja terlewat karena bayi kekenyangan dan tidur siang lebih panjang. Sedangkan kemarin, karena bayi bangun lebih pagi, jadwal makan snack jadi lebih awal, dan ia melewatkan jadwal tidur siang.

Jumat, 24 Januari 2014

Mengapa Sering Kepanasan Saat Hamil?


Ibu hamil biasanya akan merasa lebih gerah/panas, sehingga akan mengeluarkan keringat lebih banyak. Penyebabnya adalah perubahan hormonal dan peningkatan aliran darah ke kulit yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Selama yang dirasakan itu masih dalam batas normal, tentunya tidak membahayakan perkembangan janin.

Selain meningkatnya aliran darah ke kulit yang menyebabkan Ibu berkeringat, kehadiran si Kecil di dalam rahim juga akan membuat Ibu lebih kepanasan dan keringat pun menjadi lebih banyak, terutama pada usia kehamilan bulan-bulan terakhir. Saat itu, ibu hamil akan berkeringat lebih banyak dibandingkan sebelumnya, karena kelenjar keringat bekerja lebih ‘giat’ agar tubuh Ibu tetap ‘adem'. Itulah sebabnya Ibu pun mengeluarkan keringat lebih banyak.
Cara mengatasi kepanasan saat hamil sebetulnya mudah. Lakukan pernapasan teratur, jangan terlalu cepat atau lambat. Bagi ibu hamil yang punya masalah pernapasan akibat alergi atau misalnya sakit asma, tinggalah di dalam ruangan/rumah. Selain itu, perhatikan hal-hal berikut ini:
  • Hindari terpajan langsung sinar matahari siang, karena ibu hamil cenderung mudah terbakar sinar matahari (sunburn) dibandingkan saat tidak hamil.
  • Waspadai tanda-tanda awal seperti merasa lemah, lelah, pusing, atau haus. Segera berbaring dan minum banyak air atau cairan yang mengandung elektrolit. Segera ke dokter bila keadaan tidak segera membaik.
  • Bila harus ke luar rumah, gunakan tabir surya dengan SPF (sun protecting factor) tinggi dan payung.
  • Hindari berendam dalam air panas.

  • Gangguan yang sering timbul akibat kepanasan adalah sembab atau pembengkakan kaki, yang disebut ‘edema’. Pembengkakan kaki tersebut akan semakin bertambah bila pada akhir trimester dua ibu hamil berada dalam musim kemarau atau cuaca yang sangat panas. Untuk mengatasinya ikutilah beberapa tips berikut:
    1. Berbaring 30-60 menit setiap hari sepulang kerja atau saat istirahat makan siang.
    2. Letakkan kedua kaki sedikit lebih rendah daripada kepala.
    3. Gunakan sepatu yang nyaman, pilih yang longgar dan tidak menekan kaki.
    4. Jangan berdiri dalam satu posisi terlalu lama.
    5. Minimalkan garam, tetapi jangan dihilangkan. Iodium di dalam garam diperlukan untuk kesehatan janin.
    6. Jangan minum obat diuretik (yang dapat meningkatkan sekresi urin), karena dapat menyebabkan hilangnya elektrolit yang dapat membahayakan janin.

    Kalau Ibu berkeringat sangat banyak, minumlah lebih banyak cairan. Selain ‘air putih’, bisa juga mengonsumsi minuman lain, seperti susu, jus, dan sebagainya, yang akan menggantikan elektrolit yang hilang. Jangan sampai terasa sangat haus, karena itu berarti tubuh sudah mengalami dehidrasi. Minumlah segelas air setiap kali minum secara teratur sepanjang hari.
    Bila ibu hamil menyadari bahwa dalam proses kehamilan terjadi berbagai perubahan dalam tubuh, maka sebaiknya rasa panas yang menerpa tubuh juga bisa dimaklumi. Anggaplah itu sebagai ‘kesatuan paket kehamilan’ yang harus dijalani, sebelum bayi mungil yang Ibu nantikan lahir dengan selamat dengan mengikuti saran di atas. Apabila Ibu mengalami kendala, Ibu dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter.

    Apakah si Kecil Gagap?

     
     
     
     
    .
     
     
    Apakah si Kecil mengalami kesulitan berbicara dan cenderung ragu-ragu untuk berbicara atau mengulang-ulang suku kata, kata atau frase tertentu? Jika iya, maka kemungkinan si Kecil mengalami gagap. Dalam perkembangan kemampuan berbahasa, kadang ada masanya si Kecil berbicara secara gagap. Gagap terjadi karena ide di otak si Kecil muncul lebih cepat dari kemampuannya untuk mengekspresikan ide tersebut. Keadaan ini umumnya dijumpai ketika si Kecil memasuki usia 3-4 tahun dan bisa merupakan bagian normal dari perkembangan berbahasanya. Dikatakan normal jika pengulangan suku kata hanya terjadi dua kali, misalnya i-i-ibu, dan hanya berlangsung selama beberapa minggu kemudian menghilang dengan sendirinya.

    Yang perlu diwaspadai adalah jika gagap berlangsung selama lebih dari 6 bulan, pengulangan kata lebih dari dua kali, misalnya a-a-a-a-aku mau susu, dan si Kecil terlihat tegang serta berusaha keras untuk berbicara.
    Bagaimana mengantisipasi keadaan ini supaya tidak terbawa sampai dewasa?
    • Ketika si Kecil berbicara, berikan perhatian penuh dan jangan mengomentari cara bicaranya yang gagap.
    • Jangan berbicara terlalu cepat dengan si Kecil, bicaralah secara perlahan/lambat, tenang, santai dan beri beberapa kali jeda.
    • Jangan terlalu banyak bertanya supaya si Kecil lebih bebas berbicara mengekspresikan idenya sendiri, bukan hanya menjawab pertanyaan Ibu. Lebih baik mengomentari apa yang dikatakannya, sehingga si Kecil tahu bahwa Ibu mendengarkannya.
    • Gunakan ekspresi wajah dan bahasa tubuh lainnya untuk menunjukkan pada si Kecil bahwa Ibu mendengarkan apa yang disampaikan, bukan memperhatikan cara dia berbicara.
    • Luangkan lebih banyak waktu bersama si Kecil, biarkan si Kecil menentukan apa yang ingin dilakukannya.
    • Terapkan kebiasaan di rumah untuk bergantian berbicara dan mendengarkan sehingga si Kecil akan belajar bahwa lebih mudah untuk berbicara ketika ada jeda dan perhatian dari yang diajak berbicara.
    • Tunjukkan bahwa Ibu mendengarkan apa yang disampaikan dan bahwa si Kecil memiliki banyak waktu untuk bicara.
    • Tunjukkan bahwa Ibu menerima keadaan si Kecil yang gagap. Dukungan Ibu merupakan kekuatan terbesar untuk si Kecil pulih dari keadaan ini.
    • Jika si Kecil tampak frustrasi dengan kegagapannya, tenangkan, beri usapan lembut, peluk si Kecil dan katakan “Ibu tahu tidak mudah untuk bicara, jadi kamu jangan bersedih, nanti juga lama-lama kamu akan pandai berbicara”.
    Jangan merasa kesal atau terganggu dengan kegagapan si Kecil, kesabaran akan sangat membantu si Kecil untuk mengatasi hal ini. Jika gagap berlangsung lebih dari 6 bulan dan tidak hilang, sebaiknya Ibu ajak si Kecil untuk menemui ahli terapi bicara, sehingga bisa ditentukan langkah berikutnya untuk membantu menghilangkan kegagapan si Kecil.